Kedutaan Besar Kerajaan Belanda Jakarta, Indonesia

Air

Tujuan utama dari kerja sama di bidang air adalah untuk memberikan bantuan dalam pengelolaan air yang baik dan berkelanjutan di Indonesia. Untuk itu, Kedutaan ingin memanfaatkan sebaik mungkin ragam pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki Belanda. Hal ini juga memberikan kontribusi bagi reputasi Belanda di sektor air.

Program Air dalam Kerja Sama Pembangunan merupakan bagian dari kerja sama yang lebih luas di bidang air antara Belanda dan Indonesia. Dalam hal ini yang turut ambil bagian adalah pemerintah pusat (antara lain Kementerian Urusan Ekonomi, Infrastruktur & Lingkungan), pemerintah daerah (misalnya kota Rotterdam dan sejumlah badan pengelolaan air), lembaga ahli (seperti Deltares dan UNESCO-IHE), LSM (misalnya Simavi) dan kalangan usaha Belanda. Kerja sama ini berfokus pada tiga tema utama, yaitu keamanan air, ketahanan pangan dan ekosistem serta air minum dan sanitasi. Dalam tema utama ini terdapat dua tema lintas sektor yang terpadu, yaitu tata kelola air minum serta adaptasi dan mitigasi iklim.

Keamanan Air

Keamanan air berfokus pada pencegahan dan pengelolaan banjir di daerah perkotaan di bagian utara Jawa, khususnya Jakarta dan Semarang. Sejak banjir tahun 2007 di Jakarta, Belanda memberikan bantuan untuk sistem peringatan dini dan untuk memetakan risiko banjir. Selain itu juga telah disusun sebuah program untuk pemeliharaan sungai dan kanal besar yang dilaksanakan pada 2013 dengan bantuan keuangan dari Bank Dunia.

Karena hingga belum lama ini banjir dianggap sebagai masalah yang diakibatkan oleh curah hujan yang berlimpah dan air sungai dan kanal yang meluap, maka dalam beberapa tahun terakhir tampak jelas bahwa ancaman banjir dari laut semakin besar. Pemerintah pusat, kota Jakarta dan mitra Belanda bersama menyusun strategi dan langkah-langkah konkret untuk pertahanan pesisir lewat Jakarta Coastal Development Strategy. Mulai tahun 2014, pemerintah Indonesia akan mulai mewujudkan aksi yang paling mendesak.

Sanitasi

Tujuan Pembangunan Milenium 7c menyatakan bahwa jumlah orang yang tidak mempunyai akses atas sanitasi yang aman dan baik, harus dikurangi setengahnya. Dalam hal ini, Indonesia tertinggal dari negara-negara lain di kawasan. Program bilateral mendukung Program Sanitasi Nasional (PPSP) pemerintah Indonesia yang dalam lima tahun menerapkan program sanitasi di lebih dari 330 kota. Untuk itu sebuah tim yang terdiri dari perusahaan dan lembaga pengetahuan Belanda, menjalin kerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, kementerian serta pemerintah propinsi dan kota yang terkait.

Di Indonesia bagian timur, LSM Belanda SIMAVI menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Community Led Total Sanitation) bekerja sama dengan lima LSM Indonesia. Tujuan program ini adalah untuk memberikan akses kepada 500.000 orang atas sarana sanitasi.

Pengelolaan air, penyediaan pangan dan ekosistem

Pengelolaan dan penggunaan dataran rendah dan lahan gambut di dataran rendah secara berkelanjutan merupakan hal yang penting, karena hanya dengan cara ini potensi daerah semacam ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian, keanekaragaman hayati dan mitigasi perubahan iklim. Belanda ikut membantu dalam pengembangan strategi nasional untuk pengelolaan yang berkelanjutan ini lewat program WACLIMAD 2010-12 dan program QUANS (2012-2013).

Komponen kedua adalah pembaruan dan modernisasi sektor irigasi. Antara tahun 2007 dan 2013, Belanda membantu dalam berbagai program bekerja sama dengan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Pada tahun 2013, Belanda ikut membantu dalam penyusunan Program Sektor Irigasi yang baru dari ADB. Di samping investasi infrastruktur yang terbatas, program ini terutama berfokus pada peningkatkan kualitas pengelolaan air dan infrastruktur di tingkat daerah dan kabupaten.